Advertisement

FEB UNTAD Peduli Berbagi: THR Sembako untuk Para Pahlawan Kebersihan Fakultas

FEB UNTAD, 13 Maret 2026 – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Tadulako menggelar kegiatan sosial bertajuk “FEB Peduli Berbagi”. Kegiatan ini berupa penyaluran bantuan THR dalam bentuk paket sembako kepada petugas cleaning service (CS).

Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk kepedulian dan apresiasi kepada para petugas yang selama ini berperan penting dalam menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan kampus.

Penyerahan bantuan dilakukan langsung oleh Dekan FEB, Prof. Wahyuningsih, bersama Kepala Bagian FEB, Dr. Rosidah. Mereka menyerahkan paket sembako sebagai wujud terima kasih atas dedikasi para petugas kebersihan.

Dalam sambutannya, Dekan FEB menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program FEB Peduli. Program tersebut bertujuan menumbuhkan semangat kebersamaan dan kepedulian sosial di lingkungan kampus.

Ia juga menegaskan bahwa petugas kebersihan memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas perkuliahan dan kegiatan akademik.

“Kami sangat menghargai kerja keras para petugas cleaning service yang setiap hari menjaga kebersihan dan kenyamanan. Melalui kegiatan ini, kami ingin berbagi kebahagiaan sekaligus menyampaikan terima kasih,” ujarnya.

Para petugas yang menerima bantuan menyambut kegiatan ini dengan penuh rasa syukur. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan menjelang hari raya serta menambah semangat dalam bekerja.

Melalui kegiatan FEB Peduli Berbagi, diharapkan nilai kepedulian, kebersamaan, dan saling menghargai di lingkungan kampus semakin tumbuh.

Dekan FEB Untad: Literasi Keuangan Penting bagi Masa Depan Mahasiswa

FEB Untad – Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Tadulako, Wahyuningsih, menekankan pentingnya mahasiswa mengasah kecerdasan finansial di luar bangku kuliah. Hal ini ia sampaikan usai kegiatan Bootcamp Smart Financial Journey batch ke-60 yang digelar Hana Asa Indonesia di kantor OJK Sulawesi Tengah, Kamis (12/3/2026).

Menurutnya, pendidikan di kampus masih banyak berfokus pada teori, seperti manajemen keuangan dan akuntansi. Karena itu, praktik langsung bersama lembaga seperti OJK dan perbankan sangat penting agar mahasiswa siap menghadapi dunia keuangan yang sebenarnya.

“Mahasiswa perlu melihat langsung kondisi di lapangan, bukan hanya belajar teori,” ujarnya.

Ia juga menyoroti tantangan generasi muda saat ini, terutama kemudahan akses digital yang berisiko menjerumuskan. Judi online, pinjaman ilegal, dan gaya hidup FOMO (fear of missing out) menjadi ancaman serius jika tidak disikapi dengan bijak.

Wahyuningsih menegaskan komitmen FEB Untad untuk terus bekerja sama dengan berbagai instansi keuangan dalam memberikan edukasi yang lebih aplikatif. Tujuannya agar mahasiswa tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kecerdasan sosial, emosional, dan spiritual.

“Kunci mengelola keuangan dimulai dari pola pikir dan kemampuan mengendalikan keinginan, agar tidak lebih besar pengeluaran daripada pendapatan,” jelasnya.

Ia menambahkan, mahasiswa sebagai agen perubahan diharapkan mampu menyebarkan literasi keuangan, baik untuk diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat.

“Belajar tidak hanya di kelas. Mahasiswa juga harus memiliki kecerdasan emosional dan spiritual agar sukses secara berkelanjutan,” katanya.

Program Bootcamp Smart Financial Journey rutin dilaksanakan oleh Hana Asa Indonesia sebagai upaya mengurangi kesenjangan literasi dan inklusi keuangan di Sulawesi Tengah. Hingga Maret 2026, lebih dari 3.231 peserta telah mengikuti edukasi finansial ini.

Founder Hana Asa Indonesia, Mardiyah, mengatakan program ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang keuangan.

“Tujuannya agar anak muda, khususnya di Kota Palu, lebih cerdas dalam mengelola keuangan,” ujarnya.

Ia menambahkan, masih banyak anak muda yang belum memiliki tujuan keuangan, tidak mencatat pengeluaran, dan belum menyiapkan dana darurat. Hal ini berpotensi memicu masalah keuangan atau financial stress di masa depan.