FEB Untad – Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Tadulako, Wahyuningsih, menekankan pentingnya mahasiswa mengasah kecerdasan finansial di luar bangku kuliah. Hal ini ia sampaikan usai kegiatan Bootcamp Smart Financial Journey batch ke-60 yang digelar Hana Asa Indonesia di kantor OJK Sulawesi Tengah, Kamis (12/3/2026).
Menurutnya, pendidikan di kampus masih banyak berfokus pada teori, seperti manajemen keuangan dan akuntansi. Karena itu, praktik langsung bersama lembaga seperti OJK dan perbankan sangat penting agar mahasiswa siap menghadapi dunia keuangan yang sebenarnya.
“Mahasiswa perlu melihat langsung kondisi di lapangan, bukan hanya belajar teori,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tantangan generasi muda saat ini, terutama kemudahan akses digital yang berisiko menjerumuskan. Judi online, pinjaman ilegal, dan gaya hidup FOMO (fear of missing out) menjadi ancaman serius jika tidak disikapi dengan bijak.
Wahyuningsih menegaskan komitmen FEB Untad untuk terus bekerja sama dengan berbagai instansi keuangan dalam memberikan edukasi yang lebih aplikatif. Tujuannya agar mahasiswa tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kecerdasan sosial, emosional, dan spiritual.
“Kunci mengelola keuangan dimulai dari pola pikir dan kemampuan mengendalikan keinginan, agar tidak lebih besar pengeluaran daripada pendapatan,” jelasnya.
Ia menambahkan, mahasiswa sebagai agen perubahan diharapkan mampu menyebarkan literasi keuangan, baik untuk diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat.
“Belajar tidak hanya di kelas. Mahasiswa juga harus memiliki kecerdasan emosional dan spiritual agar sukses secara berkelanjutan,” katanya.
Program Bootcamp Smart Financial Journey rutin dilaksanakan oleh Hana Asa Indonesia sebagai upaya mengurangi kesenjangan literasi dan inklusi keuangan di Sulawesi Tengah. Hingga Maret 2026, lebih dari 3.231 peserta telah mengikuti edukasi finansial ini.
Founder Hana Asa Indonesia, Mardiyah, mengatakan program ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang keuangan.
“Tujuannya agar anak muda, khususnya di Kota Palu, lebih cerdas dalam mengelola keuangan,” ujarnya.
Ia menambahkan, masih banyak anak muda yang belum memiliki tujuan keuangan, tidak mencatat pengeluaran, dan belum menyiapkan dana darurat. Hal ini berpotensi memicu masalah keuangan atau financial stress di masa depan.












Leave a Reply