Advertisement

OJK, FEB Universitas Tadulako, dan Hannah Asa Indonesia Gelar Pelatihan Duta Literasi Keuangan Daerah Sulawesi Tengah Batch 3

Palu, 1 Desember 2025 — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tengah bersama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako serta Hannah Asa Indonesia kembali menyelenggarakan Pelatihan Duta Literasi Keuangan Daerah Sulawesi Tengah Batch 3, bertempat di LPMPP Universitas Tadulako. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen bersama untuk mencetak generasi muda yang kompeten, berintegritas, dan mampu mendorong peningkatan literasi serta inklusi keuangan di Sulawesi Tengah.  Pelatihan tahun ini dirangkaikan dengan kegiatan Skill Up Sertifikasi Associate Wealth Planner (AWP) Syariah untuk:

– Dosen Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan

– Dosen Jurusan Manajemen

– Dosen Jurusan Akutansi

  yang akan memberikan fondasi profesional dalam perencanaan keuangan syariah, pengelolaan aset, proteksi risiko, dan tata kelola keuangan berbasis nilai.

Kegiatan Dibuka oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako : Penguatan Peran Generasi Muda di Era Risiko Digital

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Prof. Wahyuningsih, S.E., M.Sc., Ph.D., Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako periode 2025–2027. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa peningkatan literasi keuangan tidak dapat dilepaskan dari dinamika digital, perkembangan industri finansial, serta peran mahasiswa sebagai agen perubahan.  

Beliau menekankan bahwa FEB UNTAD berkomitmen menjadi pusat pengembangan edukasi keuangan kampus dan daerah, melalui kemitraan strategis dengan OJK, industri, dan lembaga literasi seperti Hannah Asa Indonesia.

Sambutan Kepala OJK Sulteng: Duta Literasi Keuangan

Sebagai Garda Terdepan Generasi Cerdas Finansial Dalam sambutan utamanya, Kepala OJK Provinsi Sulawesi Tengah, Bapak Bonny Hardi Putra, menekankan tantangan literasi keuangan di era transformasi digital.  

Beliau menyampaikan bahwa:  “Isu literasi dan inklusi keuangan hari ini menghadapi tantangan yang

tidak sederhana. Transformasi digital, layanan keuangan berbasis teknologi, hingga maraknya kejahatan finansial digital mengharuskan kita semakin waspada dan cerdas.”

Beliau menegaskan bahwa OJK tidak dapat bekerja sendiri.Kolaborasi bersama kampus, komunitas, dan lembaga sosial merupakan kunci.  Bonny Hardi Putra juga menyampaikan kebanggaannya kepada para peserta: “Saya bangga menyaksikan lahirnya generasi baru yang berdiri di garda terdepan sebagai Duta Literasi Keuangan OJK Sulawesi Tengah Batch 3. Kalian akan menjadi role model di kampus, komunitas, UMKM, bahkan media sosial.”

Beliau menutup dengan pesan inspiratif:

“Hari ini bukan sekadar pelatihan. Ini adalah titik awal perjalanan kalian sebagai penggerak perubahan. Ilmu yang tidak dibagikan tidak akan memberi dampak.”

Peran Hannah Asa Indonesia: Penguatan Kapasitas

Sertifikasi Profesional, dan Gerakan Sadar Finansial. Sebagai mitra pelaksana utama, Hannah Asa Indonesia kembali dipercaya untuk:

● memberikan pelatihan intensif AWP Syariah,

● membangun kompetensi komunikasi dan edukasi publik,

● memperkuat pemahaman risiko finansial, proteksi, dan manajemen aset,

● serta membentuk karakter duta yang memiliki integritas dan nilai kebermanfaatan.

Program ini dirancang menjadi bagian dari Gerakan Sadar Finansial dari Sulawesi Tengah untuk Indonesia, yang selama ini digerakkan bersama oleh OJK Sulteng, FEB UNTAD, dan Hannah Asa Indonesia. Gerakan ini menargetkan lahirnya ribuan edukator muda di berbagai kampus, sekolah, dan komunitas.

Mengapa Program Ini Penting?

Batch ketiga Duta Literasi Keuangan Daerah ini diproyeksikan akan memperkuat:

1. Literasi dan resiliensi keuangan generasi muda 

2. Perlindungan masyarakat dari risiko penipuan dan kejahatan finansial digital

3. Kompetensi profesional perencanaan keuangan syariah

4. Jejaring edukator muda dalam ekosistem OJK, kampus, dan komunitas

5. Kontribusi nyata bagi Mahasiswa, UMKM dan masyarakat lokal

Duta literasi yang dikukuhkan hari ini akan menjadi jembatan penting dalam menyampaikan edukasi keuangan yang benar, terpercaya, dan mudah dipahami. Komitmen Bersama untuk Sulawesi Tengah yang Cerdas Finansial

Melalui pelatihan dan sertifikasi ini, OJK Sulteng, FEB Universitas Tadulako, dan Hannah Asa Indonesia menegaskan komitmen mereka untuk:

● membangun generasi muda yang cerdas finansial,

● memperkuat inklusi keuangan Daerah Sulawesi Tengah

● melindungi masyarakat dari risiko keuangan,

● serta menciptakan ekosistem literasi keuangan yang kokoh dan berkelanjutan.

Program ini sekaligus memperkuat posisi Sulawesi Tengah sebagai wilayah yang aktif mendorong inovasi edukasi keuangan nasional.

FEB Untad Gelar INDEF School of Political Economy (ISPE):Ekonomi Politik Mineral – Dari Ekstraktivisme ke Industrialisasi Hijau

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako (FEB Untad) sukses menyelenggarakan kegiatan INDEF School of Political Economy (ISPE) dengan tema “Ekonomi Politik Mineral: Dari Ekstraktivisme ke Industrialisasi Hijau”. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai 27 hingga 29 November 2025, bertempat di Smart Classroom dan Ruang Conference FEB Untad.

Kegiatan ini menghadirkan para pakar, akademisi, praktisi kebijakan publik, serta pemangku kepentingan strategis dalam sektor ekonomi politik, khususnya pengelolaan sumber daya mineral. Program ini menjadi wadah pembelajaran, diskusi, dan kolaborasi dalam mendorong transformasi ekonomi Indonesia dari pola ekstraktivisme menuju industrialisasi hijau yang berkelanjutan.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, turut dilaksanakan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara FEB Untad dengan tiga lembaga strategis, yaitu:

  • Institute For Development of Economics & Finance (INDEF)
  • Yayasan Indonesia Cerah
  • Yayasan Koaksi Indonesia

Kerja sama ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperluas jejaring akademik, riset kebijakan, serta penguatan kapasitas kelembagaan dalam isu ekonomi politik energi dan transisi hijau.

Acara ini juga mendapat perhatian pemerintah pusat dengan hadirnya perwakilan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan literasi kebijakan dan implementasi pembangunan ekonomi berkelanjutan di daerah.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, FEB Untad menegaskan komitmennya dalam menghadirkan ruang pembelajaran yang relevan, kolaboratif, serta berdampak bagi pengembangan pengetahuan dan kebijakan publik, khususnya dalam konteks transformasi ekonomi berbasis mineral menuju arah industrialisasi hijau.

Mahasiswa FEB Untad Bentuk SDGs, Olah Sampah Pohon Jadi Pupuk Kompos

Palu — Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako (FEB UNTAD) mengambil langkah nyata dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) melalui program pengelolaan sampah organik menjadi pupuk kompos.

Kegiatan ini berfokus pada pengolahan sampah daun dan ranting pohon di lingkungan kampus yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal. Melalui metode sederhana dan ramah lingkungan, mahasiswa berhasil mengolah limbah organik tersebut menjadi pupuk kompos yang dapat dimanfaatkan kembali untuk tanaman di area kampus maupun masyarakat sekitar.

Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan FEB Untad Asngadi menyebutkan, pembuatan Pupuk Kompos sebagai edukasi kepada mahasiswa dalam menggungakan bahan tak terpakai dan diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. “Kegiatan ini sebagai bentuk Awarness (Kesadaran) mahasiswa dalam melihat dan memanfaatkan sampah lingkungan agar berguna,” katanya, Minggu

“Selain mengurangi tumpukan sampah dan sadar terhadap lingkungan, Dr. Asngadi juga menilai kegiatan ini juga memberikan manfaat ekologis dan edukatif bagi mahasiswa. Kami ingin menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil,” ujarnya.

Dekanat FEB Untad mengapresiasi inisiatif tersebut dan berencana mengintegrasikan kegiatan serupa ke dalam program kampus berkelanjutan. Pupuk yang dihasilkan juga direncanakan akan digunakan untuk tanaman hias kampus dan kegiatan pengabdian masyarakat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa FEB Untad membuktikan bahwa keterlibatan generasi muda sangat penting dalam menjaga lingkungan dan menciptakan masa depan yang lebih baik. (AA)

FEB UNTAD sukses menyelenggarakan 3rd Tadulako International Conference on Economics and Business (TICEB)

Palu, 26 November 2025 — Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako (FEB UNTAD) sukses menyelenggarakan 3rd Tadulako International Conference on Economics and Business (TICEB) dengan mengusung tema “Sustainable Blue Economy: Tourism Business Perspectives”. Konferensi internasional ini berlangsung pada 24–26 November 2025 di kampus Universitas Tadulako, Palu, dan dihadiri para akademisi serta peneliti dari berbagai negara.

Acara ini menjadi wadah diskusi strategis mengenai masa depan ekonomi biru berkelanjutan, khususnya dalam konteks bisnis pariwisata yang menjadi salah satu sektor kunci pembangunan daerah pesisir dan kepulauan.


Pembicara Internasional Hadir Bahas Transformasi Ekonomi Biru

Konferensi menghadirkan lima pakar internasional yang memberikan perspektif global mengenai pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan dan peluang bisnis pariwisata:

  1. Assoc. Prof. Dr. Anees Jane Ali (Universiti Sains Malaysia)
    Menyoroti pentingnya inovasi dalam pengembangan wisata bahari berbasis komunitas serta peran teknologi dalam pelestarian ekosistem pesisir.
  2. Dr. Brucee Do (Ho Chi Minh University)
    Membahas integrasi ecosystem-based tourism dalam pengembangan destinasi wisata berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara.
  3. Dr. Mohd. Hairul Azrin Haji Besar (Universiti Brunei Darussalam)
    Mengangkat studi tentang praktik ekonomi biru Brunei, termasuk sinergi antara konservasi laut dan peningkatan kualitas layanan pariwisata.
  4. Dr. Harun (James Cook University Singapura)
    Menjelaskan tantangan perubahan iklim terhadap destinasi wisata tropis serta pentingnya kebijakan adaptasi berbasis ilmiah.
  5. Prof. Chalarce Totanan (Universitas Tadulako)
    Menyampaikan hasil penelitian terbaru mengenai potensi ekonomi biru di Sulawesi Tengah dan peran strategis universitas dalam pemberdayaan masyarakat pesisir.

Komitmen UNTAD pada Pengembangan Ekonomi Biru

Ketua Panitia TICEB 2025 menyampaikan bahwa konferensi tahun ini menjadi momentum penting bagi UNTAD untuk memperkuat kontribusi akademik dalam mendorong praktik ekonomi biru yang bertanggung jawab.

“Melalui TICEB, kami ingin mempertemukan para ahli dunia untuk mendiskusikan strategi pengembangan pariwisata yang tidak hanya mengutamakan keuntungan ekonomi, tetapi juga kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.


Hasil Konferensi: Kolaborasi dan Arah Penelitian Baru

Selama tiga hari pelaksanaan, berbagai panel diskusi, presentasi makalah, dan sesi jejaring akademik berlangsung aktif. Beberapa poin penting yang dihasilkan antara lain:

  • Rencana kolaborasi penelitian lintas negara mengenai manajemen destinasi wisata berbasis ekonomi biru.
  • Pengembangan model bisnis pariwisata yang mendukung konservasi sumber daya laut.
  • Penguatan kurikulum FEB UNTAD terkait ekonomi berkelanjutan dan pariwisata.
  • Komitmen untuk menyusun rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah dalam pengelolaan wilayah pesisir.

Penutup

3rd TICEB FEB UNTAD 2025 menegaskan posisi Universitas Tadulako sebagai pusat kajian strategis di kawasan timur Indonesia, khususnya dalam bidang ekonomi biru. Dengan keterlibatan para pakar internasional dan peneliti lokal, konferensi ini diharapkan menjadi pijakan kuat menuju pengembangan pariwisata berkelanjutan yang mampu menjaga keberlangsungan ekosistem laut sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dua Dosen FEB UNTAD Raih Penghargaan Bergengsi di Forum Manajemen Indonesia (FMI) ke17 di Batam

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako (FEB UNTAD) kembali menorehkan prestasi gemilang pada ajang Forum Manajemen Indonesia (FMI) ke-17 yang digelar di Batam, Kepulauan Riau, pada 21–25 Oktober 2025.. Dua dosen terbaik FEB UNTAD berhasil meraih penghargaan bergengsi dalam forum nasional tersebut.

Kegiatan tahunan FMI ini merupakan forum akademik terbesar di Indonesia bagi para dosen, peneliti, dan praktisi di bidang manajemen dan bisnis. Tahun ini, panitia mencatat 1.111 peserta yang mengikuti kegiatan secara hybrid — terdiri dari 297 peserta hadir langsung di Batam dan 814 peserta melalui platform Zoom, mewakili 185 universitas dan sekolah tinggi ekonomi dari 89 kota di 31 provinsi di seluruh Indonesia.

Dosen pertama, Prof. Dr. Djayani Nurdin, S.E., M.Si., memperoleh penghargaan Best Paper atas karya ilmiahnya yang dinilai memiliki kontribusi signifikan dalam pengembangan ilmu manajemen yang berjudul “Analisis Unit Cost dalam Rangka Peningkatan Pelayanan Kesehatan Berkelanjutan di Kabupaten Tojo Una-Una (Pendekatan ABC/Activity-Based Costing)”. Sementara itu, Dr. Asngadi, S.E., M.Si., berhasil meraih penghargaan Best Presenter berkat kemampuan penyampaian materi dengan judul “Peran Kajian Hidup Strategis dalam Mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di Kabupaten Sigi “ secara komunikatif, informatif, dan menarik selama sesi presentasi berlangsung.

Dekan FEB UNTAD menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas pencapaian kedua dosen tersebut. Menurutnya, prestasi ini menunjukkan kualitas akademik FEB UNTAD yang mampu bersaing di tingkat nasional dan terus berkomitmen meningkatkan mutu penelitian serta pengabdian kepada masyarakat.

“Penghargaan ini menjadi bukti bahwa dosen-dosen FEB UNTAD memiliki kompetensi kuat dan mampu memberikan kontribusi nyata dalam dunia akademik,” ujarnya.

Forum Manajemen Indonesia merupakan wadah pertemuan ilmiah bagi para akademisi, peneliti, dan praktisi manajemen se-Indonesia yang setiap tahunnya memberikan apresiasi kepada karya dan pemikiran terbaik di bidang manajemen.

Dengan diraihnya dua penghargaan ini, FEB UNTAD berharap semakin memotivasi para dosen dan mahasiswa untuk terus berinovasi serta berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan praktik manajemen di Indonesia.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untad Jadi Tuan Rumah Simposium Nasional Akuntansi ke-28 di Palu

Palu – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Tadulako dipercaya menjadi panitia pelaksana Simposium Nasional Akuntansi (SNA) ke-28 tahun 2025.

Kegiatan ini berlangsung di Auditorium Untad, Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (10/9/2025).

Dekan FEB Untad, Prof. Wahyuningsih, menyebut bahwa SNA merupakan agenda tahunan berskala nasional yang kini memasuki tahun ke-28 pelaksanaan.

“Ini adalah tempat berkumpulnya para educater atau orang-orang berpendidikan, baik praktisi maupun akademisi akuntansi. Kami sangat berbahagia dipercaya menjadi tuan rumah SNA ke-28 ini,” ucap Prof. Wahyuningsih kepada TribunPalu.com.

Menurutnya, kegiatan kali ini berbeda karena dirangkaikan dengan konferensi internasional di bidang akuntansi. Hal itu membuat peserta tidak hanya datang dari seluruh Indonesia, tetapi juga dari luar negeri.

“Pesertanya kurang lebih sekitar 400 orang. Syaratnya mereka harus mengirimkan artikel terlebih dahulu, nanti dipresentasikan dalam kegiatan ini,” jelasnya.

Artikel yang dipresentasikan para peserta memuat berbagai kajian di bidang akuntansi.

Salah satunya yang berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) dan mitigasi bencana, sesuai dengan tema kegiatan tahun ini.

Ia berharap, hasil diskusi akademis dalam SNA ke-28 dapat melahirkan rekomendasi praktis untuk pemerintah.

Contohnya seperti menjawab tuntutan masyarakat, khususnya terkait isu “17+8” yang mencakup bidang perpajakan hingga pengelolaan aset negara.

“Para akademisi akan berdiskusi untuk memberikan solusi isu yang sedang dihadapi pemerintah. Misalnya soal pajak, aset, dan pengelolaan aset itu mau dibawa ke mana, semuanya harus jelas,” ujar Prof. Wahyuningsih.

Kegiatan SNA ke-28 akan berlangsung selama tiga hari ke depan. 

Pemaparan artikel akan berlangsung di gedung FEB Untad, 20 ruangan telah disediakan.

Pada penutupan konferensi internasional, panitia turut menghadirkan Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid.

Prof. Wahyuningsih juga menyampaikan terima kasih kepada Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) yang telah memberikan kepercayaan kepada FEB Untad sebagai tuan rumah simposium nasional tahun ini.

Apa itu Simposium Nasional Akuntansi (SNA) ?

Simposium Nasional Akuntansi (SNA) adalah pertemuan tahunan berskala nasional yang mempertemukan para akademisi dan praktisi di bidang akuntansi.

Kegiatan ini menjadi wadah untuk mempresentasikan hasil penelitian, berdiskusi, dan bertukar gagasan mengenai perkembangan terkini dalam ilmu akuntansi.

Tujuan dan Manfaat

SNA bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan serta praktik akuntansi di Indonesia. Melalui presentasi artikel dan diskusi panel, SNA diharapkan dapat:

  • Menyebarkan pengetahuan dan temuan-temuan terbaru dalam riset akuntansi.
  • Menjalin kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan.
  • Menghasilkan rekomendasi yang dapat memberikan solusi atas isu-isu yang dihadapi pemerintah dan industri.
  • Mendorong inovasi dan adaptasi terhadap perkembangan global, seperti isu Sustainable Development Goals (SDGs).



Artikel ini telah tayang di TribunPalu.com dengan judul Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untad Jadi Tuan Rumah Simposium Nasional Akuntansi ke-28 di Palu, https://palu.tribunnews.com/palu/168142/fakultas-ekonomi-dan-bisnis-untad-jadi-tuan-rumah-simposium-nasional-akuntansi-ke-28-di-palu?page=2.
Penulis: Robit Silmi | Editor: Lisna Ali

FEB Untad Jadi Tuan Rumah SNA ke-28 Tahun 2025

Palu – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Tadulako (Untad) mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah Simposium Nasional Akuntasi (SNA) Tadulako/Accounting National Symposium ke-28 Tahun 2025.

“Alhamdulillah, tahun ini kami mendapat kepercayaan sebagai tuan rumah penyelenggaraan SNA ke-28,” ucap Dekan FEB Untad, Prof. Wahyuningsih, SE, M.Sc., Ph.D, kepada awak media usai pembukaan kegiatan ini di Auditorium Untad, Rabu, 10 September 2025.

Disebut, peserta SNA berjumlah 400 orang yang berasal dari dalam dan luar negeri berlangsung selama tiga hari, Rabu – Jumat, 10 – 12 Sepetember 2025. Ada berbagai makalah/artikel yang akan dibahas dalam SNA kali ini.

“Nanti forum ini akan membahas isu- isu yang sedang dihadapi pemerintah, termasuk adanya tuntutan masyarakat 17 + 8, di situ ada isu pajak yang berkaitan dengan accounting,” ujar Prof. Wahyuningsih.

Ketua Panitia SNA Tadulako 2025, Dr. Muhammad Din SE., M.Si Ak, melaporkan SNA mengusung tema Accounting for Sustatainability: The Role of Accounting in Achieving SDG’s and Mitigating Climate Physical Risks (Akuntansi untuk Keberlanjutan: Peran Akuntansi dalam Mencapai SDG dan Memitigasi Risiko Krisis Iklim).

Pembicara SNA dihadirkan dari kalangan akademisi, praktisi hingga birokrasi. Rektor Untad, Prof. Dr. Ir. Amar,ST., MT juga menyampaikan terima kasih atas kepercayaan untuk Untad sebagai tuan rumah.

Ketua Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia, Dr. Ardan Adiperdana, Ak MBA, mengatakan SNA merupakan ruang refleksi bagi akuntan Indonesia dan perguruan tinggi. “Mari kita buktikan profesi akuntan dapat membawa perubahan dalam menyongsong Indonesia Emas 2045,” ucapnya.

Wakil Gubernur Reny Lamadjido, yang hadir mewakili Gubernur Sulawesi Tengah mengapresiasi pelaksanaan SNA 2025. Secara khusus diucapkan terima kasih untuk Universitas Tadulako melalui Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang menjadi tuan rumah SNA.

“Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah kami mengucapkan terima kasih kepada peserta yang datang ke Palu untuk menghadiri kegiatan ini,” tutur Reny.

Adapun kegiatan dibuka oleh Anggota III BPK RI, Dr. Akhsanul Khaq., MBA, Ak, sekaligus sebagai Keynote Speech.

FEB UNTAD menjalin kerja sama Internasional dengan HCMC University of Economics and Finance (UEF), Vietnam, melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU).

Kegiatan penandatanganan yang berlangsung di Auditorium Universitas Nasional, pada hari Senin tanggal 08 September, dan dihadiri oleh jajaran pimpinan dari kedua institusi. Dari pihak FEB Untad, hadir Dekan beserta para Wakil Dekan , sementara dari pihak UEF Vietnam diwakili oleh Rektor beserta jajaran pimpinan Universitas.

MoU ini mencakup ruang lingkup kerja sama dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, termasuk program pertukaran mahasiswa, pertukaran dosen, joint research, serta penyelenggaraan seminar dan konferensi bersama.

Dekan FEB Untad dalam sambutannya menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis untuk memperluas jejaring internasional serta meningkatkan kualitas akademik fakultas melalui kolaborasi lintas negara. Sementara itu, pihak UEF Vietnam juga menyambut baik kerja sama ini dan berharap dapat memberikan manfaat nyata bagi sivitas akademika kedua belah pihak.

Dengan terjalinnya kerja sama ini, diharapkan terbuka peluang lebih luas bagi mahasiswa dan dosen untuk memperoleh pengalaman akademik dan budaya internasional, sehingga mampu berkontribusi dalam meningkatkan daya saing global.

Penguatan Tridarma Perguruan Tinggi melalui Kerjasama FEB Untad dan FEB Universitas Jember

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako (FEB UNTAD) resmi menjalin kerja sama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember (FEB UNEJ). Penandatanganan perjanjian kerja sama ini dilaksanakan sebagai langkah strategis dalam memperkuat sinergi akademik dan meningkatkan kualitas pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Dalam perjanjian tersebut, yang tertuang dalam Surat Perjanjian Kerjasama No. 10730/UN28.4/KS/2025 dan No. 9171/UN25.1.4/DN/2025, kedua fakultas sepakat untuk bekerja sama di berbagai bidang, antara lain Pendidikan, Pengembangan Organisasi, Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Kerja sama ini diharapkan dapat memperluas jejaring akademik sekaligus memberikan manfaat nyata bagi sivitas akademika dari kedua universitas.

Dekan FEB UNTAD menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari upaya fakultas dalam meningkatkan mutu pendidikan dan memperluas kolaborasi dengan perguruan tinggi lain di Indonesia. Sementara itu, Dekan FEB UNEJ menegaskan bahwa sinergi ini akan menjadi peluang untuk mengembangkan program bersama yang mendukung peningkatan daya saing lulusan serta kontribusi nyata bagi masyarakat.

Dengan adanya kerja sama ini, FEB UNTAD dan FEB UNEJ berkomitmen untuk terus membangun kolaborasi yang produktif dan berkelanjutan, demi mewujudkan pendidikan tinggi yang unggul dan berdampak luas bagi bangsa.

FEB Untad Hadirkan Kepala BI Sulteng, Bahas Potret Ekonomi Daerah

PALU – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako (FEB UNTAD) menggelar Welcome Program dan kuliah tamu untuk mahasiswa pascasarjana, Sabtu (16/8/2025).

Acara yang berlangsung di Smart Classroom FEB Untad, Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

FEB Untad menghadirkan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tengah, Muhammad Irfan Sukarna, sebagai narasumber utama.

Kegiatan mengusung tema “Membangun Ekosistem Pembelajaran Adaptif, Inovatif, dan Kolaboratif“. 

Acara ini terselenggara berkat kerja sama FEB Untad dengan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Sulteng dan Bank Indonesia Sulteng.

Peserta terdiri atas mahasiswa S2 dan S3 FEB Untad. Untuk S2 meliputi Prodi Ilmu Ekonomi, Magister Akuntansi, dan Magister Manajemen, sementara untuk S3 dari Prodi Ilmu Ekonomi.

“Mahasiswa S2 FEB Untad berasal dari 13 kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah,” kata Dekan FEB Untad, Prof. Wahyuningsih kepada TribunPalu.com.

Dalam pemaparannya, Perwakilan BI Sulteng menyoroti potret perekonomian Sulawesi Tengah.  Menurutnya, provinsi ini memiliki pertumbuhan ekonomi kedua tertinggi di Indonesia setelah Jakarta, terutama didorong oleh aktivitas industri di Morowali, Banggai, dan Luwuk.

Prof Wahyuningsih menilai manfaatnya belum optimal karena masih tingginya tenaga kerja asing di sektor industri. 

“Dampak trickle down effect belum bisa dimanfaatkan sepenuhnya untuk mengentaskan kemiskinan, sehingga hilirisasi menjadi penting,” jelasnya.

Ia juga mendorong pelaku UMKM untuk mengisi kebutuhan industri di Sulteng, mulai dari pangan hingga kebutuhan sehari-hari. 

“Jika UMKM bisa masuk ke sana, dampaknya akan lebih cepat mendorong perekonomian daerah,” ujarnya.

Lanjut, Prof Wahyuningsih menegaskan bahwa mahasiswa pascasarjana FEB Untad tidak boleh hanya sekadar mengejar gelar akademik.

“Saya berharap magister ekonomi, akuntansi, dan manajemen bisa benar-benar membuktikan kapasitasnya untuk membangun daerah masing-masing dengan jejaring yang dimiliki,” tandasnya.