Advertisement

FEB UNTAD Perkuat Kolaborasi melalui Penandatanganan MoU Kampus Berdampak dan Sosialisasi Program Ayo Bangun Desa Indonesia (ABDI)

FEB UNTAD – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako (FEB UNTAD) terus memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Program Kampus Berdampak yang dirangkaikan dengan Sosialisasi Program Ayo Bangun Desa Indonesia (ABDI) pada Kamis, 2 Juli 2026, di Ruang Muhidin Smart Classroom FEB UNTAD.

Kegiatan ini dihadiri oleh Dekan FEB UNTAD beserta jajaran pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, sivitas akademika, perwakilan pemerintah daerah, mitra kerja, dan para kepala desa yang akan menjadi bagian dari implementasi Program ABDI. Melalui kegiatan ini, FEB UNTAD menegaskan komitmennya untuk membangun kolaborasi yang berkelanjutan antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam mendukung pembangunan daerah.

Penandatanganan MoU menjadi langkah strategis FEB UNTAD dalam memperluas kemitraan sekaligus mengimplementasikan Program Kampus Berdampak yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Program ini mendorong perguruan tinggi agar tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata terhadap berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan pembangunan di tengah masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, FEB UNTAD menjalin kerja sama dengan enam mitra strategis, yaitu:

  • Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP);
  • Dinas Perpustakaan Provinsi Sulawesi Tengah;
  • Perum BULOG;
  • PT Pegadaian;
  • Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Palu; dan
  • Mitra

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui berbagai program pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, peningkatan literasi, penguatan tata kelola, pemberdayaan ekonomi, serta pengembangan inovasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Dalam sambutannya, Dekan FEB UNTAD menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk hadir sebagai bagian dari solusi atas berbagai tantangan pembangunan daerah. Menurutnya, konsep Kampus Berdampak tidak hanya berbicara tentang capaian akademik, tetapi juga tentang sejauh mana kehadiran perguruan tinggi mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk hadir sebagai mitra strategis dalam menyelesaikan berbagai persoalan di tengah masyarakat. Melalui kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, dan berbagai lembaga, FEB UNTAD ingin memastikan bahwa ilmu pengetahuan, hasil penelitian, serta inovasi yang dihasilkan sivitas akademika dapat memberikan manfaat yang nyata dan berkelanjutan. Penandatanganan MoU ini menjadi awal dari sinergi yang lebih kuat dalam mewujudkan Kampus Berdampak,” ujar Dekan FEB UNTAD.

Ia juga berharap seluruh kerja sama yang telah disepakati tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi diwujudkan melalui program-program yang terukur, berkelanjutan, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Selain penandatanganan MoU, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan sosialisasi Program Ayo Bangun Desa Indonesia (ABDI). Program ini merupakan bentuk penguatan pengabdian kepada masyarakat yang menempatkan desa sebagai mitra utama dalam pembangunan berbasis potensi lokal.

Melalui Program ABDI, dosen dan mahasiswa FEB UNTAD akan mendampingi desa dalam berbagai bidang, antara lain penguatan tata kelola pemerintahan desa, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), peningkatan literasi keuangan dan digital, pengembangan kewirausahaan, pengelolaan potensi ekonomi lokal, hingga pemanfaatan hasil riset untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Program ini juga menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan pemerintah desa, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat dalam menciptakan inovasi yang berorientasi pada pembangunan desa yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan. Pada tahap awal pelaksanaan, Program Ayo Bangun Desa Indonesia (ABDI) akan melibatkan dua belas desa sebagai mitra pendampingan, yaitu:

  • Desa Karunia, Kecamatan Palolo;
  • Desa Kandidia, Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi;
  • Desa Anca, Kecamatan Lindu;
  • Desa Puro’o, Kecamatan Lindu;
  • Desa Langko, Kecamatan Lindu;
  • Desa Tomado, Kecamatan Lindu;
  • Desa Olu, Kecamatan Lindu;
  • Desa Tibo;
  • Desa Tawale;
  • Desa Bale;
  • Desa Tamarenja; dan
  • Desa Porame, Kabupaten Sigi.

Melalui pendampingan yang berkelanjutan, FEB UNTAD berharap setiap desa mampu mengembangkan potensi lokalnya secara optimal sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat daya saing desa.

Pelaksanaan Penandatanganan MoU Kampus Berdampak dan Sosialisasi Program Ayo Bangun Desa Indonesia (ABDI) menjadi bukti nyata komitmen FEB UNTAD dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Melalui sinergi dengan berbagai mitra strategis dan pemerintah desa, FEB UNTAD tidak hanya memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap pembangunan daerah melalui inovasi, riset, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan ekonomi lokal. Ke depan, kerja sama ini diharapkan mampu melahirkan berbagai program yang memberikan dampak nyata, memperkuat kemandirian desa, serta mendukung terwujudnya pembangunan Sulawesi Tengah yang lebih maju, inklusif, dan berkelanjutan.

Galeri Kegiatan

Kuliah Tamu Magister Ilmu Ekonomi FEB Untad Bahas Dilema Pertumbuhan Ekonomi Daerah dan Dampak Sektor Ekstraktif

Palu, 9 April 2026 – Program Studi Magister Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Tadulako (Untad) sukses menggelar kegiatan kuliah tamu dengan tema “Dilema Pertumbuhan Ekonomi Daerah: Peran Sektor Ekstraktif dan Dampaknya pada Lingkungan serta Sumber Daya Alam”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 9 April 2026, bertempat di Muhidin Smart Classroom FEB Untad.

Kuliah tamu ini menghadirkan narasumber utama, Prof. Firmansyah, Ph.D., yang dikenal sebagai pakar ekonomi pembangunan. Acara dipandu oleh moderator sekaligus Ketua Program Studi Magister Ilmu Ekonomi, Mohamad Ichwan Tandju. Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Wakil Dekan I FEB Untad, Dr. Suparman.

Dalam sambutannya, Dr. Suparman menekankan pentingnya diskusi akademik terkait sektor ekstraktif yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah, namun juga menyimpan berbagai tantangan, khususnya terhadap kelestarian lingkungan dan keberlanjutan sumber daya alam.

“Kegiatan ini diharapkan dapat membuka wawasan mahasiswa dan dosen mengenai bagaimana menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Prof. Firmansyah, Ph.D. menjelaskan bahwa sektor ekstraktif seperti pertambangan dan perkebunan memiliki kontribusi besar terhadap pendapatan daerah. Namun, di sisi lain, eksploitasi yang tidak terkelola dengan baik dapat menimbulkan kerusakan lingkungan, degradasi lahan, serta konflik sosial di masyarakat.

Ia juga menekankan pentingnya kebijakan yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan. “Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa pengelolaan sumber daya alam dilakukan secara bijak agar manfaat ekonomi tidak mengorbankan generasi mendatang,” jelasnya.

Diskusi berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif dari para dosen serta mahasiswa S1 dan S2 yang hadir. Berbagai pertanyaan dan pandangan kritis disampaikan, mulai dari strategi diversifikasi ekonomi daerah hingga solusi konkret dalam mengurangi dampak negatif sektor ekstraktif.

Melalui kegiatan ini, Program Studi Magister Ilmu Ekonomi FEB Untad berharap dapat terus mendorong terciptanya ruang diskusi ilmiah yang relevan dengan isu-isu pembangunan daerah, khususnya dalam menghadapi dilema antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.

Program Studi S1 Akuntansi FEB Untad Gelar FGD Kurikulum dan RPS

Palu, 6 April 2026 – Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako (FEB Untad) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Kurikulum dan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) pada Senin (6/4) di Ballroom Hotel Helsinki Palu. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan akuntansi serta memastikan lulusan siap menghadapi kebutuhan dunia kerja dan industri.

FGD Kurikulum dan RPS S1 Akuntansi FEB Untad ini secara resmi dibuka oleh Dekan FEB Untad, Prof. Wahyuningsih. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya pengembangan kurikulum berbasis industri, teknologi, dan tantangan global.

“Penyusunan kurikulum dan RPS yang adaptif sangat penting untuk menjawab tantangan global serta memastikan lulusan memiliki kompetensi unggul, profesional, dan siap bersaing di dunia kerja,” ujarnya.

Kegiatan ini melibatkan berbagai stakeholder, termasuk perwakilan pemerintah daerah, pelaku bisnis, dan organisasi non-pemerintah (NGO). Kolaborasi ini bertujuan untuk memperoleh masukan strategis dalam penyusunan kurikulum akuntansi berbasis kebutuhan industri dan perkembangan teknologi digital.

Koordinator Program Studi S1 Akuntansi, Dr. Ni Made Suwitri Parwati, menyampaikan bahwa FGD Kurikulum Akuntansi FEB Untad merupakan bentuk komitmen dalam menjaga mutu akademik dan meningkatkan daya saing lulusan di era digital.

“Kami ingin memastikan bahwa kurikulum S1 Akuntansi tidak hanya berbasis teori, tetapi juga aplikatif, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa kontribusi stakeholder sangat penting dalam memperkuat kompetensi lulusan, terutama dalam bidang akuntansi digital, etika profesi, serta penguasaan teknologi informasi.

Penguatan Kurikulum Akuntansi Berbasis Industri dan Digitalisasi

Diskusi dalam FGD Kurikulum dan RPS ini berlangsung interaktif dengan membahas berbagai isu strategis, seperti:

  • Penguatan mata kuliah berbasis praktik akuntansi
  • Integrasi teknologi digital dalam pembelajaran akuntansi
  • Penyesuaian RPS berbasis capaian pembelajaran lulusan (CPL)
  • Kebutuhan kompetensi akuntan profesional di era industri

Masukan dari stakeholder menekankan pentingnya lulusan akuntansi yang adaptif, profesional, dan memiliki integritas tinggi dalam menghadapi dinamika dunia kerja.

Komitmen FEB Untad Tingkatkan Mutu Pendidikan Akuntansi

Melalui kegiatan FGD Kurikulum S1 Akuntansi FEB Untad ini, diharapkan tercipta kurikulum yang inovatif, relevan, dan mampu menjawab tantangan era digital serta kebutuhan pasar kerja nasional maupun global.

Kegiatan ini juga menjadi bukti nyata komitmen FEB Untad dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi, khususnya di bidang akuntansi, dengan melibatkan berbagai pihak dalam proses pengembangan kurikulum.

FGD Kurikulum dan RPS ini diharapkan menjadi fondasi kuat dalam menciptakan lulusan akuntansi yang kompeten, siap kerja, dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun internasional.